Puncu, 8 September 2026 — Komitmen SMAN 1 Puncu dalam membangun budaya sekolah yang religius kembali mendapat apresiasi. Setelah melalui tahap penilaian portofolio Lomba Sekolah Berbudaya Religi (SBR) tingkat SMA/SMK Kabupaten Kediri, SMAN 1 Puncu berhasil masuk dalam tiga besar, bersama SMKN 1 Plosoklaten dan SMKN 1 Kras. Capaian tersebut menjadi langkah penting bagi SMAN 1 Puncu untuk terus mengembangkan budaya religi yang tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga diintegrasikan dalam pembiasaan, inovasi, serta kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Sebagai tindak lanjut dari penilaian portofolio, Kementerian Agama Kabupaten Kediri melaksanakan visitasi ke SMAN 1 Puncu pada Senin, 8 September 2026. Visitasi dilakukan oleh Syaifuddin, M.Pd.I., selaku Pengawas PAI Tingkat SMA, dan Drs. Taufiq untuk melihat secara langsung pelaksanaan program Sekolah Berbudaya Religi di SMAN 1 Puncu. Dalam kesempatan tersebut, Kepala SMAN 1 Puncu, Jawari Muslim, S.Pd., mempresentasikan berbagai inovasi dan dampak pelaksanaan SBR di sekolah. Paparan tersebut menunjukkan bahwa penguatan budaya religi di SMAN 1 Puncu terus diarahkan agar selaras dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan murid di era digital.
Beberapa inovasi yang dipaparkan antara lain digitalisasi presensi ibadah dan laboratorium, yang menjadi bagian dari upaya sekolah dalam membangun budaya disiplin sekaligus memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan kegiatan keagamaan. Selain itu, SMAN 1 Puncu juga mengembangkan Q-SMART (Qur’an Smart Mastery & Recitation Training) sebagai program penguatan kemampuan membaca Al-Qur’an dan pembiasaan literasi Al-Qur’an bagi murid.
Program moderasi beragama juga menjadi salah satu bagian penting dalam implementasi SBR di SMAN 1 Puncu. Melalui program tersebut, nilai-nilai keberagamaan diarahkan untuk tumbuh berdampingan dengan sikap toleransi, saling menghargai, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan harmonis bagi seluruh warga sekolah. Visitasi tidak hanya menjadi kesempatan bagi sekolah untuk memaparkan program, tetapi juga menjadi ruang evaluasi dan penguatan terhadap pelaksanaan budaya religi yang selama ini telah berjalan.
Dalam arahannya, Syaifuddin, M.Pd.I. menekankan pentingnya administrasi yang tertib dalam setiap kegiatan keagamaan. Menurutnya, setiap program yang dilaksanakan perlu didukung dengan administrasi dan dokumentasi yang baik agar memiliki rekam jejak yang jelas serta dapat dievaluasi dan dikembangkan secara berkelanjutan. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa kegiatan keagamaan di sekolah hendaknya tidak berhenti pada pelaksanaan secara formalitas, tetapi benar-benar memiliki perencanaan, pelaksanaan, administrasi, evaluasi, dan dampak yang terukur.
Bagi SMAN 1 Puncu, masuknya sekolah dalam tiga besar penilaian portofolio SBR menjadi motivasi untuk terus memperkuat budaya religi melalui inovasi dan kolaborasi. Capaian ini bukan sekadar tentang posisi dalam sebuah lomba, tetapi menjadi momentum untuk memastikan bahwa nilai-nilai religius benar-benar tumbuh menjadi budaya yang hidup di lingkungan sekolah.
Meneguhkan budaya religi, menguatkan karakter, menghadirkan inovasi. SMAN 1 Puncu terus melangkah membangun generasi yang beriman, berakhlak, adaptif terhadap teknologi, serta mampu hidup dalam keberagaman.